Selasa, 27 Agustus 2024


 

LAPORAN TUGAS MATA KULIAH

ESTETIKA DAN ERGONOMI

Disusun guna memenuhi Tugas Mata Kuliah Estetika dan Ergonomi

Dosen Pengampu :

1.     Drs. Jajang S, M.Sn.

2.     Dr. Drs. I Ketut Supir, M.Hum.

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

PUTU HELINA SAPUTRI

2402071006

 

 

 

 

 

Program Studi D3 Desain Komunikasi Visual

Universitas Ganesha

2024







KATA PENGANTAR

 

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga laporan tugas kuliah ini dapat terselesaikan dengan baik. Laporan ini berjudul "Estetika dan Ergonomi" dan disusun sebagai bagian dari tugas mata kuliah Estetika dan Ergonomi yang diajar oleh Drs. Jajang S, M.Sn. dan Dr. Drs. I Ketut Supir, M.Hum.

Laporan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai dua konsep penting dalam desain, yaitu Estetika dan Ergonomi. Estetika fokus pada aspek visual dan keindahan, sedangkan Ergonomi berkaitan dengan kenyamanan dan fungsionalitas.

Saya menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari dosen pengampu dan pembaca sekalian untuk perbaikan di masa mendatang. Terima kasih atas perhatian dan dukungannya selama penyusunan laporan ini.

Singaraja, 27 Agustus 2024

Penulis,

 

Putu Helina Saputri

2402071006

                                                                                                             

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.  Latar Belakang

Dua konsep utama yang memainkan peran krusial dalam desain adalah estetika dan ergonomi. Estetika berkaitan dengan keindahan dan daya Tarik visual, sementara ergonomi focus pada kenyamanan dan efektivitas penggunaan. Dalam konteks desain, estetika tidak hanya mencakup elemen-elemen visual seperti warna, bentuk, dan tekstur, tetapi juga bagaimana elemen-elemen tersebut berfungsi untuk menciptakan pengalaman yang menyenangkan bagi pengguna. Estetika mempengaruhi bagaimana produk maupun lingkungan dipandang dan diterima oleh pengguna, dan sering kali menjadi factor utama dalam keputusan pemilihan. Di sisi lain ergonomic adalah studi tentang bagaimana desain dapat disesuaikan untuk meningkatkan kenyamanan dan efisiensi dalam penggunaan. Konsep ergonomic muncul dari kebutuhan untuk menciptakan desain yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mendukung Kesehatan dan kesejahteraan pengguna. Ergonomi bertujuan untuk mengurangi ketegangan fisik, meningkatkan produktivitas, dan mencegah cedera. Dalam desain, estetika dan ergonomic sering kali dipandang sebagai dua aspek yang terpisah, tetapi keduanya sebenarnya saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain. Sebuah desain yang indah secara visual tidak selalu berarti nyaman digunakan, dan sebaliknya desain yang ergonomis belum tentu menarik. Oleh karena itu penting untuk mengintegrasikan kedua konsep ini yakni estetika dan ergonomi ini dalam proses desain untuk mencapai hasil yang optimal.


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1.  Definisi Estetika

Estetika (aesthetic) adalah suatu bidang ilmu yang mempelajari dan membahas tentang keindahan, bagaimana suatu keindahan dapat terbentuk, dan juga bagaimana keindahan tersebut disadari dan dirasakan oleh manusia.

Pengertian Estetika Menurut Para Ahli :

1.     Bruce Allsopp (1977)

Menurut Bruce Allsopp, pengertian estetika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang proses dan aturan dalam menciptakan suatu karya seni, yang diharapkan bisa menimbulkan perasaan positif bagi orang yang melihat dan merasakannya.

2.     Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Menurut KBBI, pengertian estetika yaitu, estetika adalah suatu cabang filsafat yang membahas tentang seni, nilai keindahan, dan tanggapan manusia terhadapnya. estetika adalah kepekaan manusia terhadap seni dan keindahan.

3.     J. W. Moris

Menurut J. W. Moris, pengertian estetika sama dengan seni karena estetika dapat dikenakan pada berbagai objek, baik yang indah maupun tidak. Selanjutnya, Moris menyebutkan bahwa estetika adalah suatu objek seni (art).

4.     Dra. Artini Kusmiati

Menurut Dra. Artini Kusmiati, pengertian estetika adalah suatu keadaan yang berhubungan dengan sensasi keindahan yang baru bisa dirasakan seseorang jika terjalin perpaduan yang harmonis antar elemen yang ada dalam suatu objek.

5.     Aristoteles

Aristoteles berpendapat jika seni memberikan banyak sekali dampak baik dengan beragam ilmu pengetahuan yang bisa diaplikasikan serta tak kalah dengan ilmu eksak.

6.     Van Mater Ames (Colliers Encyclopedia, 1)

Estetika adalah sesuatu yang sudah berhubungan dengan apresiasi, penciptaan, dan kritik pada karya seni dalam konteks keterkaitan seni dengan aktivitas manusia serta peranan seni di dalam perubahan dunia.

7.     Jakob Sumarjo

Estetika ini mempersoalkan hakikat keindahan alam serta karya seni, sementara filsafat seni mempersoalkan hanya karya seni maupun benda seni, atau artifak yang disebut sebagai seni.

8.     William Haverson, dalam Estetika Terapan, 1989

Semua hal yang berkaitan dengan sifat dasar nilai – nilai non moral sebuah karya seni.

9.     Herbert Read

Menurut Herbert Read, pengertian estetika adalah kesatuan dan hubungan bentuk yang ada di antara pencerapan indrawi manusia.

10.  Bruce Allsopp

Suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari mengenai proses serta aturan di dalam menciptakan sebuah karya seni, yang diharapkan dapat menciptakan perasaan positif untuk orang yang melihat serta merasakannya.

11.  Earl of Shaftesbury

Suatu keindahan yang didapatkan dari ide murni abadi sehingga dapat membuat suatu hal yang luar biasa, tanpa harus terdapat campur tangan dari kepentingan pribadi (selera) sebab dengan hal itu bisa merusak keindahan murni itu sendiri.

12.  Agustinus

Suatu hal yang berwujud keindahan dengan adanya kesatuan objek maupun unsur seni lain yang sesuai dengan prinsip – prinsip seni dan mengetahui porsinya masing – masing.

13.  Hutcheson

Suatu keindahan yang bersifat tunggal yakni kemurnian, dan meyakini jika manusia bisa menciptakan keindahan itu sebab di dalam diri mereka ada kemampuan dasar yang bersifat eksternal maupun internal.

 

Secara etimologis, istilah estetika berasal dari bahasa Latin “aestheticus” atau bahasa Yunani “aestheticos” yang berarti merasa atau hal yang dapat dicerap oleh panca indera manusia. Estetika sangat berkaitan dengan perasaan manusia, khususnya perasaan yang indah atau perasaan positif. Keindahan yang dimaksud bukan hanya sesuatu yang bisa dilihat bentuknya, tapi juga makna atau arti yang terkandung di dalamnya.

2.2.  Unsur - Unsur Estetika

1.     Unsur Tema

Unsur tema yang dimaksud dalam sini ialah ide maupun gagasan yang disampaikan oleh si pembuat objek atau karya seni terhadap orang lain. Pada umumnya, tema pada sebuah karya akan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti: Letak geografis, budaya, adat istiadat, dan yang lainnya.

2.     Unsur Warna

Estetika merupakan suatu keindahan, yang mana definisi tersebut lumayan sering diutarakan oleh banyak orang. Warna ini memiliki pengaruh yang sangat besar dalam meningkatkan keindahan terhadap suatu benda maupun objek yang lain. Keindahan sebuah objek juga amat dipengaruhi dengan unsur warna. Biasanya, dalam pilihan warna objek akan disesuaikan dengan orang yang akan memakainya.

3.     Unsur Motif Hias

Unsur estetika yang berikutnya ialah unsur motif hias. Motif hias merupakan suatu gambar atau pola yang menjadi hiasan pada sebuah objek / produk. Tujuan dari penambahan motif hias dalam sebuah suatu objek tersebut untuk menambah nilai keindahan atau estetika terhadap objek atau produk itu sendiri.

4.     Unsur Bentuk

Unsur bentuk “shape” sangat berpengaruh terhadap daya tarik dalam sebuah objek. Pada umumnya, bentuk dari objek terdiri atas dua jenis, yakni dua dimensi serta tiga dimensi. Objek dua dimensi tidak mempunyai volume serta bentuknya datar. Contoh: Lukisan, hiasan dinding, foto, dan yang lainnya. Objek tiga dimensi mempunyai kedalaman, volume, dan ruang. Contoh: Patung, tas, pakaian, dan yang lainnya. Bentuk juga bisa meningkatkan nilai estetika terhadap sebuah benda. Seseorang dapat menyebut suatu benda mengandung nilai estetika juga jika memiliki bentuk yang unik dan juga indah.

2.3.  Aspek Estetika

1.     Absolutisme

Absolutisme merupakan bentuk penilaian dari sebuah karya seni yang memiliki sifat mutlak serta tidak dapat ditawar ataupun diganggu gugat. Bentuk dari penilaian satu ini berdasarkan pada hal konvensi atau pada bentuk peraturan yang telah ditentukan.

2.     Anarki

Anarki merupakan bentuk penilaian kedua yang didasarkan pada pendapat setiap orang dan sifatnya adalah subjektif serta tidak perlu lagi adanya bentuk pertanggungjawabkan. Penilaian anarki ini tetap didasarkan pada peraturan seni yang berlaku. Akan tetapi telah disesuaikan dengan pengalaman serta perspektif seseorang atas pandangannya mengenai seni.

3.     Relativisme

Relativisme adalah aspek ketiga dalam estetika. Relativisme merupakan bentuk penilaian seseorang yang sifatnya adalah tak mutlak atau tidak absolut serta masih memiliki sifat objektif. Maka artinya, penilaian tersebut masih mempertimbangkan banyak hal dengan segala peraturan yang berlaku.

1.1.  Teori Estetika

1.     Teori Estetik Formil

Teori satu ini menyebutkan jika keindahan eksterior bangunan melibatkan masalah bentuk serta warna. Teori ini juga memandang keindahan sebagai suatu hasil formal dari tinggi, lebar, ukuran, dan juga warna.

2.     Teori Estetik Ekspresionis

Teori kedua menyebutkan jika keindahan tak selalu terwujud lewat bentuknya, namun melalui tujuan, maksud, dan juga ekspresi. Pada teori ini juga mengasumsikan jika mayoritas keindahan sebuah karya seni tergantung dengan apa yang diungkapkannya.

3.     Teori Estetik Psikologis

Di dalam teori ini, keindahan terbagi ke dalam 3 aspek, antara lain:

Keindahan merupakan hasil dari emosi yang hanya bisa ditunjukkan dengan adanya metode psikoanalitik. Keindahan merupakan hasil dari rasa puas pemirsa dengan objek yang mereka lihat. Keindahan di dalam arsitektur merupakan ritme sederhana dan juga mudah.

4.     Teori Esensialitas

Prinsip dalam teori ini menyebutkan jika seseorang yang menilai suatu hal yang indah dapat berbicara mengenai sesuatu yang memberikannya kesenangan yang dihasilkan dari kemampuan manusia pada umumnya.

5.     Teori Bentuk Tujuan

Dan pada teori terakhir ini, apabila keempat teori sebelumnya berhubungan dengan subjek yang mengalami keindahan, maka kalian bisa melihat teori kelima dari objek keindahan itu sendiri.

2.5.  Sejarah Estetika

Pada awalnya, estetika sebagai bidang filsafat mengemukakan gagasan bahwa keindahan adalah objektif dan universal. Para pemikir seperti Plato dan Aristoteles memandang keindahan sebagai suatu prinsip yang inheren dan terkandung dalam objek-objek tertentu. Namun, pandangan ini kemudian bergeser seiring dengan perkembangan zaman.

Pada abad ke-18, pemikir Jerman Alexander Baumgarten mengenalkan istilah “aesthetica” yang merujuk pada ilmu yang mempelajari keindahan dan kesenangan sebagai disiplin mandiri. Pendekatan ini memberikan pijakan bagi munculnya kajian estetika yang lebih komprehensif dan ilmiah.

Selanjutnya, pada abad ke-19, filsuf Jerman Georg Wilhelm Friedrich Hegel memperkenalkan konsep “rasa seni” (artistic taste) dalam konteks keindahan dan memandangnya sebagai spektrum pengalaman subjektif. Hegel juga mengemukakan konsep seni sebagai refleksi dari semangat zaman dan kondisi sosial-politik yang sedang berlaku.

Pada abad ke-20, perkembangan teknologi dan dinamika sosial budaya memberikan pengaruh yang signifikan terhadap sejarah estetika. Pemikir seperti Walter Benjamin mengajukan gagasan bahwa reproduksi teknis dalam seni visual memberikan pergeseran dalam cara kita menghargai dan menginterpretasikan karya seni. Pengaruh ini terus berkembang hingga era digital saat ini, di mana teknologi menjadi unsur penting dalam penciptaan dan penyebaran karya seni.

2.6.  Contoh Estetika

Nilai estetika sifatnya subjektif, subjektifitas dalam nilai estetika berarti tidak ada standar universal yang menentukan apa yang indah atau tidak. Sebagai contoh, sebuah karya seni bisa diapresiasi oleh beberapa orang sebagai karya yang estetis, namun sebagian orang lain mungkin tidak merasakan hal yang sama. Apa yang dianggap indah atau menarik oleh satu orang mungkin tidak sama bagi orang lain. Kita bisa menemukan contoh nilai estetika pada saat :

·       Menonton pentas pertunjukan

·       Melihat suatu pemandangan alam

·       Merasakan makanan

·       Melihat hasil riasan atau makeup (kecantikan itu relatif)

·       Melihat karya seni, contohnya lukisan, kerajinan dan lain-lain.

2.7.  Tujuan dan Manfaat Estetika

1.     Menambah pengetahuan manusia mengenai nilai-nilai kesenian dan keindahan.

2.     Menambah pengetahuan manusia tentang unsur-unsur seni dan keindahan dan juga berbagai faktor yang mempengaruhinya.

3.     Menambah pengetahuan manusia tentang unsur-unsur subjektif yang mempengaruhi kemampuan manusia dalam menikmati seni dan keindahan.

4.     Meningkatkan rasa kecintaan dan apresiasi manusia terhadap alam, seni, dan budaya bangsanya.

5.     Menambah kemampuan manusia dalam menilai suatu karya seni sehingga akan mengembangkan budaya apresiasi seni.

6.     Meningkatkan kewaspadaan pada pengaruh buruk yang bisa merusak seni dan budaya lokal.

7.     Memperkokoh keyakinan manusia pada moralitas, keprimanusiaan, kesusilaan dan juga Ketuhanan.

8.     Meningkatkan kemampuan manusia untuk berpikir secara sistematis, serta menambah wawasan sebagai bekal untuk kehidupan spiritual dan psikologi sehingga bisa memecahkan masalah dengan lebih baik.

2.8.  Definisi Ergonomi

Ergonomi berasal dari bahasa Yunani, yaitu “ergon” yang berarti pekerjaan dan “nomos” berarti hukum atau aturan. Dengan kata lain, istilah ergonomi berbicara tentang aturan pekerjaan. Selanjutnya, jika dijabarkan, pengertian ergonomi adalah studi tentang interaksi manusia dengan lingkungannya, termasuk perancangan kondisi area kerja agar sesuai dengan kebutuhan, kenyamanan, dan produktivitas.

Jika faktor ergonomi tidak diperhatikan, maka dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya MSDs (Musculoskeletal disorders), yaitu gangguan pada sistem muskuloskeletal seperti otot, ligamen, saraf, tendon, sendi, dan tulang belakang.

Pengertian Ergonomi menurut para ahli :

1.        Tarwaka (2004)

Menurut Tarwaka, Ergonomi adalah ilmu, seni dan penerapan teknologi untuk menyerasikan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktifitas maupun dalam istirahat atas dasar kemampuan dan keterbatasan manusia baik fisik maupun mental sehingga kualitas hidup secara keseluruhan menjadi lebih baik.

2.        Eko Nurmianto (2004:1)

Menurut Eko Nurmianto, Ergonomi adalah studi tentang aspek manusia dalam lingkungan kerja yang ditinjau dari anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen dan desain perancangan.

3.        The Internasional Ergonomics Association (2000)

Menurut The Internasional Ergonomics Association, Ergonomi adalah suatu disiplin ilmiah yang urgen untuk diperhatikan interaksi antara manusia dan bagian lain dalam elemen sebuah sistem dan juga profesi yang mengplikasikan teori, prinsip-prinsip, data, dan juga metode yang dirancang untuk mengoptimasikan kesejahteraan manusia dan juga keseluruhan kinerja dari sistem.

Sritomo

4.        Menurut Sritomo

Ergonomi adalah displin ilmu yang mempelajari manusia yang berkaitan dengan pekerjaannya.

5.        Ginting Rosnani (2010)

Menurut Ginting Rosnani, Ergonomi adalah suatu cabang keilmuan yang sistematis untuk memanfaatkan informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia dalam merancang suatu sistem kerja, sehingga orang dapat hidup dan juga bekerja pada suatu sistem yang baik yaitu untuk mencapai tujuan yang diinginkan dengan melalui pekerjaan yang efektif, efisiesn, aman dan nyaman.

6.        Wignjosoebroto S (2003)

Menurut Wignjosoebroto S, Ergonomi adalah ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan informasi mengenai kemampuan dan keterbatasan manusia dalam merancang suatu sistem kerja sehingga orang dapat hidup dan bekerja pada sistem tersebut yang lebih baik yaitu dengan mencapai tujuan yang diinginkan melalui suatu pekerjaan yang efektif, efisien, aman dan nyaman.

2.9.  Ruang Lingkup Ergonomi

1.     Organizational Ergonomic

Lingkup ergonomi ini mencakup desain pekerjaan, tugas, dan lingkungan organisasi secara keseluruhan.

 

Contohnya dapat meliputi kerja sama tim, perencanaan strategis, desain produk, layanan, dan sistem manajemen.

2.     Physical Ergonomic

Lingkup ini mencakup desain fisik, termasuk pada pengaturan ruang kerja, peralatan, perabotan, dan tata letak kantor yang ergonomis.

Adapun faktor yang harus dipertimbangkan dalam physical ergonomic meliputi pencahayaan, ventilasi, suhu, keyboard, dan postur saat bekerja.

3.     Cognitive Ergonomic

Selanjutnya, bidang cognitive ergonomic mencakup fungsi otak, seperti analisis kesalahan, interaksi manusia dengan teknologi, dan beban kerja secara mental.

Beberapa contohnya adalah tampilan grafis, sistem navigasi, manajemen kualitas, dan pengambilan keputusan.

2.10. Tujuan Ergonomi

·       Untuk meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental dengan cara pencegahan cidera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental, serta mengupayakan promosi dan kepuasaan kerja.

·       Untuk Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak sosial, mengelola dan mengkoordinir secara tepat dan meningkatkan jaminan sosial selama kurun waktu usia produktif maupun setelah produktif.

·       Untuk menciptakan keseimbangan rasional antara berbagai macam aspek seperti aspek ekonomi, aspek teknis, antropologis dan budaya setiap sistem kerja yang dilakukan sehingga tercipta kualitas kerja dan kualitas hidup yang tinggi.

2.11. Fungsi dan Manfaat Ergonomi

·       Kerja meningkat, seperti kecepatan, ketepatan, keselamatan dan mengurangi energi saat bekerja.

·       Mengurangi waktu, biaya pelatihan dan pendidikan.

·       Mengoptimalisasi penggunan Sumber Daya Manusia melalui peningkatan keterampilan yang dibutuhkan.

·       Mengurangi waktu yang terbuang percuma.

·       Meningkatkan kenyamanan karyawan dalam bekerja.

2.12. Prinsip Ergonomi

1.     Kenyamanan (Comfortability)

                        Prinsip pertama dari ergonomi adalah kenyamanan saat bekerja.

Prinsip pekerjaan yang nyaman dapat membantu mencegah cedera dan dapat meningkatkan produktivitas karyawan. Beberapa faktor ergonomi yang harus dipertimbangkan dalam prinsip comfortability adalah ketinggian meja dan tata letak ruang kerja.

2.     Kegunaan (Utility)

Prinsip selanjutnya dari ergonomi adalah kegunaan alat untuk bekerja. Peralatan kerja yang baik adalah perkakas dengan fungsi jelas dan mudah untuk digunakan.

Oleh sebab itu, peralatan kerja karyawan harus dirancang agar dapat mempermudah tugas-tugas, meminimalkan kelelahan, serta meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

3.     Kekuatan (Durability)

Prinsip berikutnya dari ergonomi adalah kekuatan atau kehandalan dari peralatan pekerjaan.

Peralatan kerja harus dirancang untuk awet atau tahan lama, sehingga tidak cepat rusak dan dapat menghindari risiko kecelakaan pada karyawan.

4.     Keamanan (Safety)

Prinsip lainnya dari ergonomi adalah keamanan karyawan saat bekerja.

Keamanan adalah prinsip yang sangat penting dalam ergonomi, sebagai contoh, karyawan harus bekerja dengan lingkungan aman dan terbebas dari bahaya.

Hal ini dapat dicapai melalui penggunaan peralatan dan pengaturan kerja yang aman serta terhindari dari risiko cedera.

5.     Keluwesan (Flexibility)

Prinsip terakhir dari ergonomi adalah keluwesan atau fleksibilitas dalam bekerja. Keluwesan dapat diartikan sebagai kemampuan suatu sistem atau perangkat untuk beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi pada lingkungan dan penggunanya.

Dalam hal ini, sistem atau perangkat yang dirancang dengan prinsip keluwesan dapat diatur kembali sesuai dengan kebutuhan penggunanya.

2.13. Sejarah Ergonomi

Ergonomi dipopulerkan pertama kali pada tahun 1949 sebagai judul buku yang dikarang oleh Prof. Murrel. Istilah ergonomi digunakan secara luas di Eropa. Di Amerika Serikat dikenal istilah human factoratau human engineering. Kedua istilah tersebut (ergonomi dan human factor) hanya berbeda pada penekanannya. Intinya kedua kata tersebut sama-sama menekankan pada performansi dan perilaku manusia. Menurut Hawkins (1987), untuk mencapai tujuan praktisnya, keduanya dapat digunakan sebagai referensi untuk teknologi yang sama. Ergonomi telah menjadi bagian dari perkembangan budaya manusia sejak 4000 tahun yang lalu. Perkembangan ilmu ergonomi dimulai saat manusia merancang benda-benda sederhana, seperti batu untuk membantu tangan dalam melakukan pekerjaannya, sampai dilakukannya perbaikan atau perubahan pada alat bantu tersebut untuk memudahkan penggunanya. Pada awalnya perkembangan tersebut masih tidak teratur dan tidak terarah, bahkan kadang-kadang terjadi secara kebetulan.

Perkembangan ergonomi modern dimulai kurang lebih seratus tahun yang lalu pada saat Taylor (1880-an) dan Gilberth (1890-an) secara terpisah melakukan studi tentang waktu dan gerakan. Penggunaan ergonomi secara nyata dimulai pada Perang Dunia I untuk mengoptimasikan interaksi antara produk dengan manusia. Pada tahun 1924 sampai 1930 Hawthorne Works of Wertern Electric(Amerika) melakukan suatu percobaan tentang ergonomi yang selanjutnya dikenal dengan “Hawthorne Effects” (Efek Hawthorne). Hasil percobaan ini memberikan konsep baru tentang motivasi di tempat kerja dan menunjukan hubungan fisik dan langsung antara manusia dan mesin. Kemajuan ergonomi semakin terasa setelah Perang Dunia II dengan adanya bukti nyata bahwa penggunaan peralatan yang sesuai dapat meningkatkan kemauan manusia untuk bekerja lebih efektif. Hal tersebut banyak dilakukan pada perusahaan-perusahaan senjata perang.

2.14. Contoh Ergonomi

Salah satu contoh penerapan ergonomi di tempat kerja adalah pada penggunaan kursi dan meja yang sesuai dengan postur tubuh karyawan. Dengan mengatur ketinggian meja dan kursi, serta sudut kemiringan yang tepat, karyawan akan merasa nyaman saat bekerja sehingga dapat mengurangi risiko cedera. Penggunaan mouse dan keyboard yang ergonomis juga dapat membantu mencegah cedera repetitif seperti carpal tunnel syndrome atau gangguan pada pergelangan tangan. Selain itu, penerapan ergonomi di tempat kerja juga akan meningkatkan produktivitas karyawan dan mengurangi keluhan kesehatan.

 

 


·        

BAB III

PENUTUP

 

3.1  Kesimpulan

Estetika dan ergonomi adalah dua elemen penting dalam desain yang saling melengkapi. Estetika fokus pada keindahan dan daya tarik visual, sementara ergonomi menitikberatkan pada kenyamanan, efisiensi, dan keselamatan penggunaan. Keduanya perlu dipertimbangkan secara bersamaan untuk menciptakan desain produk misalnya atau lingkungan yang tidak hanya menarik tetapi juga fungsional dan nyaman digunakan.

Integrasi antara estetika dan ergonomi memastikan bahwa desain tidak hanya menarik secara visual tetapi juga nyaman dan aman digunakan. Desain yang mengusung estetika dan ergonomi cenderung lebih diterima oleh pengguna karena menawarkan pengalaman yang menyenangkan dan fungsional.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Growthrich.my.id. (2022, 30 November). Pengertian Estetika, Prinsip, Manfaat, Unsur, Teori dan Contohnya. Diakses pada 27 Agustus 2024, dari 1 new message (growthrich.my.id)

 

Blog.liveaman.com. (2023, 19 April).  Ergonomi: Pengertian, Tujuan, Ruang Lingkup, Prinsip & Contoh. Diakses pada 27 Agustus 2024, dari Ergonomi: Pengertian, Tujuan, Ruang Lingkup, Prinsip & Contoh (liveaman.com)

 

Pelajaran.co.id. (2023, 1 Oktober). Pengertian Estetika, Unsur Tujuan dan Manfaat Estetika Menurut Para Ahli Lengkap. Diakses pada 27 Agustus 2024, dari Pengertian Estetika, Unsur Tujuan dan Manfaat Estetika Menurut Para Ahli Lengkap (pelajaran.co.id)

 

Perpusteknik.com. (2023, 10 Oktober). Sejarah Estetika: Perjalanan Menuju Kecantikan dalam Setiap Episode Kehidupan. Diakses pada 27 Agustus 2024. dari Sejarah Estetika: Perjalanan Menuju Kecantikan dalam Setiap Episode Kehidupan - PerpusTeknik.com

 

Tuliskan.id. (2023, 15 November). Estetika adalah. Diakses pada 27 Agustus 2024, dari √ ESTETIKA: Pengertian, Fungsi, Manfaat, Teori, Contoh (tuliskan.id)

 

Pakdosen.co.id. (2024, 16 April). Pengertian Ergonomi. Diakses pada 27 Agustus 2024, dari Pengertian Ergonomi - PAKDOSEN.CO.ID

 

Pelajaran.co.id. (2024, 11 Agustus). Pengertian Ergonomi, Ruang Lingkup, Tujuan, Fungsi, Manfaat dan Prinsip Ergonomi Terlengkap. Diakses pada 27 Agustus 2024, dari Pengertian Ergonomi, Ruang Lingkup, Tujuan, Fungsi, Manfaat dan Prinsip Ergonomi Terlengkap (pelajaran.co.id)

DESAIN DIGITAL AMPLOP DAN KOP SURAT